Kemarin saya pergi ke mangga dua untuk service Headphone Sonicgear saya. Selesai kuliah pengganti di hari sabtu (uuurrrggh), langsung tancap naik busway. Karena bukan orang yang sabar menanti teman yang bisa menemani ato mau repot2 nyari teman yang lagi punya waktu luang, saya pergi sendiri saja toh udah sering ke mangga dua juga.
Setiba di tempat service sonic gear, abang yang bagian service lagi makan siang. Akhirnya saya dipersilahkan duduk oleh abang yang lain.
Si abang ini mulai tanya2 ke saya..
Kuliah ya?
Iya,,
Ambil jurusan apa?
Akuntansi..
De-el-el
Sampai akhirnya, kurang lebih saya menceritakan kalo saya ini pegawai negeri yang melanjutkan S1 di ekstensi UI ambil jurusan akuntansi. dan dia bercerita kalo dia ini S3, alias cuma SD-SMP-SMA.
Lalu, ada seorang bapak-bapak, Cina, yang masuk. Lalu dia bilang,
Ati-ati mbak, ngobrol sama dia.
Saya cuma diam, lalu dia meneruskan,
Abis lepas infus dia mbak.
Lalu bapak dan abang itu tertawa bersama.
Ya, daripada bengong nungguin lebih baik saya ajak ngobrol aja mbaknya, begitu kata si abang.
Saya pun ikut tersenyum. Biasanya kalo saya perhatikan di toko-toko elektronik, ada gap antara pemilik, yang biasanya Cina dan pegawai toko, yang biasanya Jawa. Dimana si pemilik ini judes, pelit dan mata duitan. sedangkan si pegawai, hidup semampu nafasnya dan cuma bisa merana kalo bosnya semena-mena.Tapi saya tak lihat itu di toko ini.
Si bapak ini tampak menyatu dengan bawahannya. Tak hanya abang yang saya ajak ngobrol, tapi beberapa abang lain yang sedang mengangkut monitor, speaker dan elektronik lainnya. Terdengar dari cara dia memerintah, kata-kata yang keluar sangat halus dan enak didengar. santun.
Lalu bapak ini juga mengajak ngobrol saya. Saya bercerita, lagi, kalo saya kuliah di UI melanjutkan S1 ambil jurusan akuntansi.
Dia bilang, jaman sekarang harus pilih jurusan dengan baik. Jangan sampai salah. Bagus itu kalo kakak ambil akuntansi, semua perusahaan pasti butuh. semua lapangan butuh akuntansi. Kalo teknik kan susah, ga semuanya butuh. Kakak kerja di perusahaan mana?
Oh, saya pegawai negeri (sengaja saya tidak menyebutkan instansi)
Lalu, karena merasa sudah ditanya gantian saya yang bertanya mengenai bapak itu. Dia bercerita kalo dia tidak ambil S1, orang tuanya tidak mampu untuk menyekolahkan dia. Kebetulan dia anak terakhir, jadi orang tuanya sudah tidak ada uang lagi. Toko yang dia jaga ini punya adik iparnya, dia bekerja sama dengan adik iparnya itu.
Akhirnya, abang yang bagian service datang juga. Segera dia mengambilkan headphone saya, ternyata tidak diperbaiki tapi ditukar dengan yang baru. Setelah dites, akhirnya saya pastikan kalo headphone baru ini tidak ada masalah. Saya pun segera membereskan headphone itu untuk segera pulang ke kosan, Sebelum pulang bapak yang tadi berkata kepada abang yang pertama ngajak ngomong sambil menunjuk saya,
Ini penerus bangsa.
Hahaha, saya sedih sekali.
Apakah karena saya sedang kuliah?
Apakah karena saya kuliah di UI, yang orang bodoh sekalipun tahu bahwa ekstensinya mahal sekali sedangkan mereka tak mungkin mampu?
Apakah karena saya pegawai negeri?
Tidak, menurut saya dari tiga pertanyaan di atas bukan syarat mutlak seorang penerus bangsa yang baik. Dan saya tidak menemukan alasan lain yang mungkin membuat mereka berpikir begitu. Lalu saya bilang,
S1 ato bukan, semuanya penerus bangsa. Kemudian saya pamit pulang dan tak lupa berterima kasih atas pelayanan servicenya. Cuma itu yang bisa keluar dari mulut saya, S1 ato bukan, semuanya penerus bangsa.
Saya ingin kembali ke toko itu dan berkata.
Ko, anda juga penerus bangsa. Mas, anda juga penerus bangsa. Bukan berarti saya ini mahasiswa S1 dan pegawai negeri, sedangkan kalian bukan S1 dan bekerja di toko kecil maka kalian bukan penerus bangsa. Jangan berpikir anda tak ada artinya bagi negara ini. Meneruskan bangsa dimulai dari kegiatan seperti ini, dimulai dari toko seperti ini. Dimulai dari anda memerintahkan bawahan dan dari bawahan menjalankan perintah atasan. Dimulai dari saat ini, hari ini dan detik ini juga. Saya ingin berkata seperti itu. ingin sekali menyadarkan, ketika melihat rasa kagum di mata mereka saat saya berkata saya kuliah di UI atau sudah bekerja sebagai pegawai negeri, bahwa S1 di UI atau pegawai negeri bukanlah suatu keagungan. Mereka sama seperti saya. Semuanya bisa jika berusaha. Tapi bagaimana bisa berusaha kalo kesempatan juga tidak ada? Kalo orang tua tak mampu menyediakan kesempatan karena keterbatasan di luar kehendak mereka, tak ada uang?
Seandainya saya pandai berbicara.
